بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِِ

PPMA

Website Resmi Majelis Ansharullah
Jemaat Ahmadiyah Indonesia

RAMADHAN: Al-Qur’an dan Puasa

Ditulis oleh :

Zafar Ahmad Khudori: Kebumen: 11/3/2024

Kita akan memulai tema ini dengan mengambil faedah dari “Tafsir Al-Jalalain” yaitu
(Hari-hari tersebut adalah)
شَہۡرُ رَمَضَانَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ فِیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ
bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Qur’an
—> yakni dari Lohmahfuz ke langit dunia di malam lailatulkadar
sebagai petunjuk
—> menjadi ‘hal’, artinya yang menunjukkan dari kesesatan
لِّلنَّاسِ وَ بَیِّنٰتٍ
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
—> artinya keterangan-keterangan yang nyata
مِّنَ الۡہُدٰی
mengenai petunjuk itu
—> yang menuntun pada hukum-hukum yang hak
وَ
dan
—> sebagai
الۡفُرۡقَانِ
pemisah
—> yang memisahkan antara yang hak dengan yang batil.
فَمَنۡ شَہِدَ
Maka barang siapa yang menyaksikan
—> artinya hadir
مِنۡکُمُ الشَّہۡرَ فَلۡیَصُمۡہُ ؕ وَ مَنۡ کَانَ مَرِیۡضًا اَوۡ عَلٰی سَفَرٍ فَعِدَّۃٌ مِّنۡ اَیَّامٍ اُخَرَ ؕ
(di antara kamu di bulan itu, hendaklah ia berpuasa dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan, lalu ia berbuka, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari yang lain)
—> sebagaimana telah diterangkan terdahulu. Diulang-ulang agar jangan timbul dugaan adanya nasakh dengan diumumkannya ‘menyaksikan bulan’
یُرِیۡدُ اللّٰہُ بِکُمُ الۡیُسۡرَ وَ لَا یُرِیۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ
Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesempitan
—> sehingga oleh karenanya kamu diperbolehkan-Nya berbuka di waktu sakit dan ketika dalam perjalanan. Karena yang demikian itu merupakan `illat atau motif pula bagi perintah berpuasa, maka diathafkan padanya.
وَ لِتُکۡمِلُوا
Dan hendaklah kamu cukupkan
—> ada yang membaca ‘tukmiluu’ dan ada pula ‘tukammiluu’
الۡعِدَّۃَ
bilangan
—> maksudnya bilangan puasa Ramadhan
وَ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ
dan hendaklah kamu besarkan Allah
—> sewaktu menunaikannya
عَلٰی مَا ہَدٰٮکُمۡ
atas petunjuk yang diberikan-Nya kepadamu
—> maksudnya petunjuk tentang pokok-pokok agamamu
وَ لَعَلَّکُمۡ تَشۡکُرُوۡنَ
dan supaya kamu bersyukur
—> kepada Allah Ta’ala atas semua itu.
Sumber:
https://quranhadits.com/quran/2-al-baqarah/al-baqarah-ayat-185/

DEFINISI RAMADHAN

Saat ini kita memasuki bulan suci Ramadhan, bulan ke-9 dari 12 bulan dari penanggalan Hijriah yaitu:

  1. Muharram,
  2. Shofar,
  3. Rabiul Awal,
  4. Rabiuts-Tsani,
  5. Jumadal Ula,
  6. Jumadal Tsani,
  7. Rajab,
  8. Sya’ban,
  9. Ramadhan,
  10. Syawal,
  11. Dzul-Qaidah dan
  12. Dzul-Hijjah
    [Hamid: 2003: 4].

Hadhrat Hafizh Roshan Ali (r.a.) dalam bukunya “Fiqih Ahmadiyah” [1989: 88] menjelaskan kata “Ramadhan” berasal dari ramadh yang dalam bahasa Arab dikatakan kepada teriknya sinar matahari. Karena pada bulan Ramadhan harus menahan dengan sabar dari makan-minum dan menyantap segala jenis makanan sedangkan melaksanakan perintah-perintah Allah (s.w.t.) menimbulkan suatu suhu panas dan terik. Rasa panas dan terik rohani itulah yang menimbulkan Ramadhan.

Ahli loghat yang mengatakan bahwa karena datangnya pada bulan musim panas maka disebut Ramadhan. Pada hemat saya, itu tidak benar. Sebab untuk bangsa Arab hal itu tidaklah merupakan kekhususan. Yang dimaksudkan rohani ialah kenikmatan dan kemanisan agamawi.

Ramadhan dikatakan juga kepada suhu panas yang membuat batu dan sebagainya panas. Ramadhan merupakan bulan do’a. Dari ayat suci Al-Quran: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” [QS 2/Al-Baqarah: 185/Terjemahan Depag RI]; kita memaklumi betapa agungnya bulan Ramadhan.

Dari sekian banyak keagungan bulan Ramadhan, 2 di antaranya adalah yang teragung yaitu diturunkannya Wahyu-wahyu Al-Quran kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan diwajibkannya puasa kepada orang-orang yang beriman.

DITURUNKANNYA AL-QUR’AN

Al-Qur’an Menurut Etimologi (Bahasa)

Dalam Muqaddimah “Al Qur’an dan Terjemahnya” Depag RI (1993: 17) menjelaskan bahwa “Qur’an” menurut pendapat yang paling kuat seperti yang dikemukakan Dr. Subhi Al Salih berarti “bacaan”, asal kata qara’a. Kata Al Qur’an itu berbentuk masdar dengan arti isim maf’ul yang maqru’ (dibaca).

Sedangkan Maulana Muhammad Ali M.A., L.L.B. (1995: 97) dalam Catatan “Tafsir”-nya (No. 227a QS 2/Al-Baqarah: 185) menjelaskan bahwa kata Qur’an adalah mashdar (infinitif) dari akar qara’a, makna aslinya mengumpulkan barang-barang menjadi satu [Lane Lexicon oleh E.W. Lane].

Makna yang kedua ialah membaca; mengapa kata Qur’an diterapkan dalam arti membaca, karena dalam membaca, huruf dan kata-kata digabungkan dalam satu susunan [“Al-Mufrodat” oleh Ar-Roghib Al-Isfahani].
Baca juga dibagian Muqaddimah kitab tersebut pada halaman XIV.

Untuk melengkapi keterangan di atas, Malik Ghulam Farid menjelaskan dalam “Tafsir”-nya [2014: 132] bahwa kata Al-Qur’an diderivasi dari qara’a yang berarti: ia membaca; ia menyampaikan atau memberi pesan; ia mengumpulkan benda itu (Catatan Tafsir No. 207B).

Al-Qur’an Menurut Terminologi (Istilah)

Setelah mengetahui arti kata “Qur’an”, sekarang mari kita cari tahu tentang definisi “Qur’an” dari segi istilah.
Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy (1994: 3) mengutip pendapat beberapa ahli, di antaranya:

1. Asy-Syafi’i: “(Al-Qur’an) itu nama resmi bagi kalamullah yang diturunkan kepada (Nabi) Muhammad (s.a.w.).”
2. As-Sayuthi: “Al-Qur’an itu kalamullah yang diturunkan kepada (Nabi) Muhammad (s.a.w.), yang tak dapat ditandingi oleh yang menentangnya, walaupun sekedar sesurat saja daripadanya.”
3. Asy-Syaukani: “Al-Qur’an itu kalamullah yang diturunkan kepada (Nabi) Muhammad (s.a.w.), yang ditilawatkan dengan lisan lagi mutawatir.”

Sementara itu Malik Ghulam Farid (2014: 132) berdasarkan beberapa arti “Qur’an”, beliau mendefinisikan “Al-Qur’an adalah sebuah kitab yang dimaksudkan untuk dibaca, pesan yang harus diteruskan dan disampaikan kepada dunia, yang memuat segala kebenaran, khazanah ilmu yang mengandung segala kebenaran abadi yang terkandung dalam kitab-kitab wahyu terdahulu, juga segala kebenaran yang diperlukan umat manusia pada setiap zaman dan dalam seriap keadaan” [Catatan Tafsir No. 207B].

Wahyu Pertama Menurut Hadits

Kitab Shahih Bukhari: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami dari Al-Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az-Zubair dari ‘Aisyah (Ummul Mu’miniin/Ibu Kaum Mukmin) bahwasanya dia berkata:

Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah s.a.w. adalah dengan mimpi yang benar (ar-ru’yash-shoolihah) dalam tidur. Dan tidaklah Beliau (s.a.w.) bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh.

Kemudian Beliau (s.a.w.) dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau (s.a.w.) memilih gua Hiro’ dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali.

Kemudian Beliau (s.a.w.) menemui Khadijah (r.a.) mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al-Haq saat Beliau (s.a.w.) di gua Hiro’:
Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah!”
Beliau (s.a.w.) menjawab: “Aku tidak bisa baca.”

Nabi s.a.w. menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”

Beliau (s.a.w.) menjawab: “Aku tidak bisa baca.”
Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”

Beliau (s.a.w.) menjawab: “Aku tidak bisa baca.”
Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ke-3 kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah.”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abdullah bin Yusuf dan Abu Shalih juga oleh Hilal bin Raddad dari Az-Zuhri. Dan Yunus berkata: Ma’mar menyepakati bahwa dia mendapatkannya dari Az-Zuhri.
(Itu adalah terjemahan Abu Ahmad as Sidokare [versi Kompilasi Chm], bandingkan juga dengan: “Terjemahan Hadits Shahih Bukhari Jilid 1” karya H. Zainuddin Hamidy dkk. Jakarta: Widjaya. 1996: hlm. 2-3).

Hadits di atas menjelaskan 2 hal:
1. Permulaaan wahyu yang datang kepada beliau s.a.w. (sebelum kenabian) adalah dengan mimpi yang benar (ar-ru’yash-shoolihah) dalam tidur.
2. Sedangkan wahyu berikutnya datang kepada Rasulullah s.a.w. (di mana beliau s.a.w. dalam keadaan tidak tidur), Malaikat Jibril datang dengan memandu beliau s.a.w. untuk mengulangi wahyu yang diucapkannya yaitu yang kita kenal dengan QS 96/Al-‘Alaq: 1-5 (sebagai tanda awal kenabian).

Di Gua Hira: Kasyaf atau Mimpi?

Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. (1992: 13) sesuai HR Bukhari di atas menyebut bahwa pengalaman tersebut disebut sebagai kasyaf yakni dalam keadaan jaga atau tidak tidur.
Sementara itu sejarawan Ibnu Ishaq (2012: 147) dan Muhammad Husain Haekal (2015: 80) menjelaskan bahwa saat itu Rasulullah s.a.w. dalam keadaan tidur.

Wahyu Pertama Turun pada Bulan Ramadhan

Menurut QS 2/Al-Baqarah: 185, wahyu tersebut (QS 96/Al-‘Alaq: 1-5) turun pada bulan Ramadhan. Allah s.w.t. berfirman,

“(Hari-hari tersebut adalah)
شَہۡرُ رَمَضَانَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ فِیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ
bulan Ramadan yang padanya diturunkan Alquran” (Seperti dikutip di bagian awal tulisan ini/Terjemah Al-Jalalain).

Bandingkan dengan terjemahan Jemaat Ahmadiyah Indonesia berikut:
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan”.

Ayat ini, menurut Malik Ghulam Farid [2014: 132-133] menjelaskan bahwa dalam bulan Ramadhan pulalah seluruh wahyu diperdengarkan ulang oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah s.a.w. setiap tahun. Kebiasaan itu terus dilakukan hingga tahun terakhir hayat Rasulullah s.a.w. di mana seluruh Al-Qur’an diulangi kepada beliau s.a.w. 2 kali oleh Malaikat Jibril di bulan Ramadhan itu [HR Bukhari].

Jadi, dari segi yang lain dapat juga dikatakan bahwa seluruh Al-Qur’an telah diwahyukan dalam bulan Ramadhan. Catatan Tafsir No. 208.

Tanggal Wahyu Pertama Menurut Para Ahli

Para Ahli umumnya mempunyai pendapat yang sama dalam hal tahunnya yaitu 13 SH/610 M (termasuk Muhammad Husain Haekal [2015: 80] hanya menyebut tahunnya) dan bulannya (yaitu Ramadhan) tetapi beragam tentang tanggalnya:

Yang berpendapat tanggal 27 Rajab adalah Ja’far Subhani [2006: 156].

Yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan (tanpa menyebut tahun) adalah Ibnu Ishaq [2012: 150] dan Nurcholish Madjid [2000: 46].

Yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan (saat usia Nabi s.a.w. 40 tahun) adalah Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy [1998: 26].

Yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan (saat usia Nabi s.a.w. 41 tahun) adalah Hudhari Bik [1980: 5].

Yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M (saat usia Nabi s.a.w. 40 tahun 6 bulan 8 hari versi Qamariyah atau 39 tahun 3 bulan 8 hari versi Syamsiah) adalah Depag RI [1993: 55-56].

Yang berpendapat tanggal 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M (saat usia Nabi s.a.w. 41 tahun) adalah Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy [1994: 23].

Yang berpendapat: 17 Ramadhan 13 SH atau 13 Agustus 610 M adalah O. Hashem [2007: 66].

Yang berpendapat: 24 Ramadhan 13 SH/610 M [Jarir] adalah Malik Ghulam Farid [2014: 132 & 2131].

Yang berpendapat: malam ke-25, 27 atau 29 Ramadhan adalah Maulana Muhammad Ali, M.A. L.L.B. [1995: 97].

Ayat Terakhir: QS 5/Al-Maidah: 3

Menurut Hudhari Bik [1980: 5-6] wahyu yang terakhir turun terjadi pada tanggal 9 Dzul-Hijjah pada hari Raya Akbar tahun 10 Hijriyah dan tahun ke-63 dari kelahiran beliau dengan wahyu (Ayat) yang diturunkan adalah:

اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ
AL-YAUMA AKMALTU LAKUM DIINAKUM WA ATMAMTU ‘ALAIKUM NI’MATII WA RO-DHIITU LAKUMUL-ISLAAMADIINAA.
Artinya, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” [QS 5/Al-Maidah: 3]/Terjemahan Depag RI.

Menurut O. Hashem [2007: 337]:
Pada sore harinya, hari Jumat tanggal 9 Dzulhijah ini, turunlah QS 5:3.
Tetapi ulama berpendapat, Ayat ini turun 9 hari kemudian yaitu tanggal 18 Dzulhijah di Ghadir Khum.

Tetapi pada halaman lainnya [2007: 337]:
O. Hashem menyebutkan bahwa sebagai kesimpulan dapat kita katakana bahwa 82 hari sebelum Rasul (s.a.w.) wafat, turunlah Ayat yang terakhir [QS 5:3].

Menurut Prof. Dr. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy [1994: 39-40]: wahyu yang terakhir turun terjadi pada hari Jum’at tanggal 9 Dzul Hijjah tahun 10 Hijrah, atau tahun ke-63 dari kelahiran Nabi = Maret 632 M.
Pada saat itu Nabi sedang berwukuf di padang ‘Arafah dalam menyelenggarakan hajji yang terkenal dengan Hajji Wada’.

Kebanyakan ulama tafsir menetapkan bahwa sesudah hari itu tak ada lagi Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan hukum dan Nabi pun hidup sesudahnya selama 81 malam saja lagi.

Ahli Tarikh menetapkan bahwa Nabi kita (s.a.w.) hidup sesudahnya selama 3 bulan lebih kurang.

Sebagaimana diketahui bahwa Rasulullah (s.a.w.) wafat pada tanggal 12 Rabi’ulawal tahun 11 Hijrah, hari Isnain = 7 Juni 632 M.
Ayat yang penghabisan turunnya menurut pendapat Jumhur ialah QS 5:3.

Menurut Maulana Muhammad Ali, M.A. L.L.B. [1995: 307]:
Sudah dapat dipastikan bahwa Ayat (QS 5:3) ini diturunkan pada waktu Nabi Suci (s.a.w.) menjalankan ibadah Haji yang terakhir pada tahun Hijrah ke-10, selanjutnya dapat dibuktikan dengan terang bahwa Ayat ini diturunkan pada tanggal 9 Dzul-Hijjah tahun itu juga, pada waktu Nabi Suci (s.a.w.) sedang wukuf di padang pasir ‘Arafah [Bukhari 2: 32].

Menurut Malik Ghulam Farid [2014: 419]:
Secara sepintas baiklah kita ketahui bahwa Ayat ini merupakan Ayat yang diwahyukan terakhir, dan Rasulllah s.a.w. wafat hanya 82 hari sesudah Ayat ini turun [Catatan Tafsir No. 721].

Pendapat Lain tentang QS 2/Al-Baqarah: 281

Sedangkan menurut Prof. DR. Muhammad Ali Ash-Shaabuuniy [1998: 29-30]:
Ayat yang terakhir diturunkan adalah firman Allah s.w.t. berikut ini:
وَ اتَّقُوۡا یَوۡمًا تُرۡجَعُوۡنَ فِیۡہِ اِلَی اللّٰہِ ٭۟ ثُمَّ تُوَفّٰی کُلُّ نَفۡسٍ مَّا کَسَبَتۡ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ
WAT-TAQUU YAUMAN TURJA’UUNA FIIHI ILALLOOHI TSUMMA TUWAFFAA KULLU NAFSIN MAA KASABAT WA HUM LAA YUZH-LAMUUN
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” [QS 2/Al-Baqarah: 281/Teremahan Depag RI].
Ini adalah pendapat yang benar dan kuat menurut kesepakatan para ulama, yang tokoh utamanya As-Suyuti.

Pebadapat ini dikutip dari Abdullah bin Abbas yang diriwayatkan oleh Nasa’i dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwasanya ia berkata,
“Ayat Al-Qur’an yang terakhir diturunkan ialah QS 2: 281.
Sembilan hari setelah diturunkan Ayat tersebut, Nabi Muhammad s.a.w. wafat pada malam Senin pada tanggal 3 Rabi’ul Awwal.”

Surah Terakhir: Surat ke-110/An-Nashr

Menurut Maulana Muhammad Ali, M.A. L.L.B. [1995: 1629]:
Diriwayatkan, Ibnu Umar menerangkan bahwa Surat ini (An-Nashr) diturunkan pada waktu Nabi Suci (s.a.w.) menunaikan ibadah haji yang terakhir, dan bahwa hidup beliau (s.a.w.) tinggal 82 hari saja setelah Surat ini diturunkan [Bahrul Muhith].

Oleh karena itu, walaupun Surat ini diturunkan pada zaman Madinah menjelang akhir hidup Nabi Suci (s.a.w.), namun Surat ini diturunkan di Makkah.
Sebagai Surat yang diturunkan sekaligus, Surat ini dapat dikata Surat terakhir yang diturunkan kepada Nabi Suci (s.a.w.) [Pengantar Surat An-Nashr].

Begitu pula menurut Malik Ghulam Farid [2014: 2177]:
Surah ini (An-Nashr) adalah Surah Madaniyah dalam artian bahwa Surah ini diturunkan sesudah Hijrah di masa Medinah, tetapi adalah Makkiyah dalam artian bahwa Surah ini diturunkan di Mekkah pada peristiwa Haji Wida’ (Haji Perpisahan).

Sedikit berbeda dengan Maulana Muhammad Ali, menurut Malik Ghulam Farid, turunnya Surah An-Nashr kira-kira 70 atau 80 hari sebelum kewafatan Rasulullah (s.a.w.).

Semua data sejarah yang bersangkutan, ditambah dengan riwayat-riwayat yang terpercaya, dan didukung oleh sumber terkemuka seperti Abdullah bin Umar r.a., salah seorang sahabat Rasulullah s.a.w. yang terhormat dari masa sangat awal, telah menetapkan bahwa Surah ini turun pada waktu itu.

Ini merupakan Surah terakhir, diwahyukan seutuhnya, sekalipun Ayat terakhir yang menandai wahyu Al-Qur’an berakhir ialah Ayat ke-4 Surah Al-Maidah [Pengantar Surah An-Nashr].
Demikianlah pandangan kesejarahan tentang nuzul (turun)nya:
Ayat pertama, Ayat terakhir dan Surah terakhir.

Selanjutnya mari kita melanjutkan ke tema keagungan bulan Ramadhan lainnya yaitu diwajibkannya puasa.

DIWAJIBKANNYA PUASA

Tentang puasa dari berbagai segi, silahkan membaca artikel berikutnya yaitu:
https://homesinaubareng.wordpress.com/2021/04/20/puasa-perintah-sejarah-tujuan-hikmahnya/

Pada kesempatan ini kita hanya fokus pada sejarah puasa dalam Islam.

Hadhrat Mirza Tahir Ahmad r.h. [Darsus No. 44/1992] menjelaskan bahwa sejauh yang saya selidiki terbukti bahwa Ramadhan pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-2 Hijrah.
Dan bukti ini tidak ada sanggahan tertulis dari kitab manapun.
Dan pada bulan Ramadhan tersebut sedang terjadi Perang Badar, yang beberapa hari kemudian tiba hari ‘Id dan orang-orang Islam telah merayakan ‘Id pertama setelah perang selesai selagi luka-luka akibat perang belum pulih sepenuhnya.

Hudhari Bik [1980: 99] menjelaskan bahwa Rasulullah (s.a.w.) telah menentukan jumlah hari-hari puasa sunat di luar bulan Ramadhan dan difardhukannya puasa itu pada tahun ke-2 dari hijrah.

Prof. DR. T.M. Hasbi Ash Shiddieqy [1990: 50] menjelaskan bahwa pada akhir Sya’ban tahun yang ke-2 dari hijrah, Allah (s.w.t.) menurunkan “Ayatush-Shiyam” yakni Ayat 184-186 Surah Al-Baqarah yaitu perintah mewajibkan puasa atas umat Islam supaya menyiapkan mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

KESIMPULAN:

1. Ayat “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran” [QS 2/Al-Baqarah: 185/Terjemahan Depag RI] memiliki 2 makna:
a. Wahyu pertama Al-Quran [Al-‘Alaq/96: 1-5] diturunkan pada bulan Ramadhan.
b. Setelah puasa diwajibkan dalam Islam (pada tahun ke-2 Hijriah) maka seluruh wahyu yang sudah turun dibaca ulang oleh Malaikat Jibril dan dikuti oleh Nabi Muhammad s.a.w.; sedang pada Ramadhan terakhir pada kehidupan beliau s.a.w.: seluruh wahyu sudah turun dibaca ulang oleh Malaikat Jibril sebanyak 2 kali tammat dan juga dikuti oleh Nabi Muhammad s.a.w..

2. Tentang Ayat yang terakhir turun, para ahli/pakar memiliki perbedaan kesimpulan:
a. Umumnya adalah QS 5/Al-Maidah Ayat 3 atau Ayat 4 (jika “bismillaah” dihitung sebagai Ayat ke-1). Rasulllah s.a.w. wafat hanya 82 hari sesudah Ayat ini turun
b. Sedangkan para ahli/pakar yang lain berpendapat bahwa Ayat yang terakhir turun adalah:
WATTAQUU YAUMAN TURJA’UUNA FIIHI ILALLOOHI TSUMMA TUWAFFAA KULLU NAFSIN MAA KASABAT WA HUM LAA YUZH-LAMUUN
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)” [QS 2/Al-Baqarah: 281/Terjemahan Depag RI atau Ayat 282/jika “bismillaah” dihitung sebagai Ayat ke-1]. Sembilan hari setelah diturunkan Ayat tersebut, Nabi Muhammad s.a.w. wafat.

3. Sedangkan Surah yang terakhir turun adalah Surah ke-110 yaitu Surah An-Nashr (turunnya kira-kira 70 atau 80 hari sebelum kewafatan Rasulullah s.a.w.).

BAHAN BACAAN
Ahmad r.a., Hadhrat Mirza Bashiruddin Mahmud (1992). Riwayat Hidup Rasulullah saw. Bogor: Yayasan Wisma Damai.
Ahmad r.h., Hadhrat Mirza Tahir (1992). Khutbah ‘Idul Fithri di Islamabad, Inggris: 5 April 1992. Darsus No. 44/1992. Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Ali, Hadhrat Hafizh Roshan (r.a.) [1989]. “Fiqih Ahmadiyah”. Bogor: Jemaat Ahmadiyah Indonesia.
Ali, Maulana Muhammad, M.A., L.L.B. (1995). Qur’an Suci Teks Arab, Terjemah dan Tafsir Bahasa Indonesia. Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah.
Ash-Shaabuuniy, Prof. DR. Muhammad Ali (1998). Studi Ilmu Al-Quran. Bandung: CV Pustaka Setia.
Ash Shiddieqy, Prof. Dr. T.M. Hasbi (1994). Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/Tafsir. Jakarta: Bulan Bintang.
Bik, Hudhari (1980). Tarjamah Tarikh Al-Tasyri’ Al-Islami. Semarang: Darul Ikhya Indonesia.
Depag RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al-Qur’an (1993). Al Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta: Intermasa.
Farid, Malik Ghulam (2014). Al-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat. Jakarta Barat: Neratja Press.
Haekal, Muhammad Husain (2015). Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Tintamas Indonesia.
Hamid, MA., Drs. Shalahuddin [2003]. Hari-hari Besar Islam. Jakarta: PT. Intermedia Cipta Nusantara.
Hamidy, H. Zainuddin dkk. (1996). Terjemahan Hadits Shahih Bukhari Jilid 1. Jakarta: Widjaya.
Hashem, O. (2007). Muhammad Sang Nabi Penelusuran Sejarah Nabi Muhammad Secara Detail. Jakarta Selatan: Ufuk Press.
Ishaq, Ibnu (2012). Sirah Nabawiyah Sejarah Lengkap Kehidupan Rasulullah saw. Jakarta Timur: Akbar Media Eka Sarana.
Madjid, Nurcholish (2000). Dialog Ramadlan Besama Cak Nur. Jakarta: Paramadina.
Subhani, Ja’far (2006). Sejarah Nabi Muhammad saw. Jakarta: Lentera.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Baca Artikel lain

Opini
Ahmad Nursalam

MENGAPA PERLU ADA AHMADIYAH?

Oleh: Dodi Kurniawan/Ketua Cabang Wanasigra Apa sih urgensi keberadaan Ahmadiyah dalam dunia Islam? Bukankah Ahmadiyah malah hanya menambah banyaknya golongan dalam Islam saja? Mari kita

Read More »
Opini
Ahmad Nursalam

KHILAFAH AHMADIYAH

Oleh: Dodi Kurniawan/Ketua Cabang Wanasigra Senin, 27 Mei 2024, Jamaah Muslim Ahmadiyah akan menasyakuri satu abad lebih Khilafah Ahmadiyah — sebuah nikmat teramat besar —

Read More »

RINGKASAN KHOTBAH JUMAT 5 APRIL 2024

Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di

Read More »